Menginap Dirumah Warga Pesisir Lampung

Suatu pagi yang hening di Teluk Kiluan, Lampung. Saya terbangun dengan kantuk yang masih melekat. Embusan angin laut menyeruak dari sela pintu pondokan berbahan kayu ini. Sempat terpikir untuk melanjutkan tidur tetapi urung karena Pak Chairul Anwar si empunya homestay sudah mengetuk pintu. Saya melirik jarum jam yang mendekati angka lima. Saya tersontak dan bergegas membangunkan dua rekan untuk segera beranjak. Hari itu kami berencana mengarungi lautan lepas di dekat teluk ini untuk melihat aktivitas lumba-lumba. Dan pagi hari, adalah waktu yang terbaik.

Desa Terpencil di Pesisir Lampung

Mengintip berbagai sumber, Teluk Kiluan yang bercokol 80 km dari Bandar Lampung ini merupakan habitat lumba-lumba terbesar di Asia bahkan mungkin dunia. Di teluk ini bermukim lumba-lumba hidung botol (Tursiops aduncus) dan lumbalumba paruh panjang (Stenella longirostris). Jumlahnya diyakini mencapai ribuan. Kebiasaan mereka muncul di perairan terbuka terutama di pagi hari, menjadi magnet utama kampung Kiluan Negeri yang dulu senyap ini. Untuk sampai ke desa nelayan di Kabupaten Tanggamus ini Anda harus siap menempuh ruas jalan yang tak ringan. Jalanan berkelok berbatu dan penuh lubang menyita waktu hingga 4 jam dari Bandar Lampung. Anda harus melupakan angan wisata penuh kemewahan. Semua penginapan rata-rata dikelola warga setempat. Tak ada fasilitas mewah apalagi hotel berbintang. Kabarnya listrik pun belum lama masuk. Sinyal selular hanya tertangkap satu provider. Itu pun kembang kempis. Anda benar-benar akan terlontar dari hiruk-pikuk urban. Namun jangan segera gigit jari. Lanskap alam yang cantik berupa kombinasi teluk tenang dan perbukitan hijau terhampar siap memanjakan mata. Melupakan segala penat dan lelah.

Untuk bermalam, kami memilih pondokan yang tak jauh dari cekungan teluk. Bau cat menyeruak ketika kami tiba jelang petang di hari sebelumnya. Nampaknya bangunan berbentuk rumah panggung yang terpisah sedikit dari rumah induk ini baru direnovasi. Seperti layaknya desa wisata yang sedang menggeliat, banyak rumah dikonversi jadi homestay. Fasilitas masih seadanya. Ruangan 5×6 meter hanya terisi kasur tanpa dipan berikut sebiji kipas angin meja pengusir gerah. Tak ada TV kecuali beberapa colokan sumber listrik. Tak ada bosan karena pemiliknya Pak Chairul, sangatlah ramah dan senang bercengkrama layaknya kawan lama.

Meskipun penginapan ini sangat sederhana akan tetapi disini tersedia genset solar yang warga beli dari pusat genset yanmar di Lampung dimana tempat tersebut memiliki banyak sekali jenis dan macam diesel genset sehingga bisa dengan mudahnya menemukan genset sesuai kebutuhan penginapan. Sistem pembayaranya menurut warga sangat membantu, sebab setiap pembelian genset bisa diangsur selama 3 bulan hingga 24 bulan.